RSS

Sejarah Kelahiran Sains dan Teknologi

20 Mar


Manusia adalah mahluk Allah yang sangat sempurna karena mendapatkan kebaikan yaitu berupa akal dan pikiran. Manusia sebagai mahluk yang berfikir dibekali rasa ingin tahu, rasa ingin tahu inilah yang mendorong untuk mengenal dan menjelaskan segala permasalahan dan gejala-gejala alam. Serta berusaha memecahkan segala permasalahannya.

Manusia sebagai mahluk hidup, melalui panca indranya memberikan tanggapan terhadap semua rangsangannya, termasuk gejala alam sementara ini. Tanggapan terhadap gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa alam merupakan suatu pengalaman, pengalaman itu dari zaman kezaman akan berakumulasi, karena manusia mempunyai rasa ingin tahu atau koriositas terhadap segalanya di alam semesta ini.

Pengalaman merupakan salah satu cara terbentuknya pengetahuan yakni perkumpulan fakta-fakta. Dan pengalaman akan terus berkembang da turun temurun pada generasi selanjutnya. Pertambahan pengetahuan seperti yang telah dikemukakan di dorong oleh:

  1. Dorongan untuk memuaskan diri yang bersifat non praktis guna memenuhi kuriositas dan memahami tentang hakikat alam semesta dan isinya.
  2. Dorongan praktis yang memamfaatkan pengetahuan itu untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih tinggi

Ilmu alamiah merupakan kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis artinya kegiatan manusia yang tiada hentinya dari hasil percobaan akan menghasilkan konsep, selanjutnya dari konsep itu mendorong percobaan berikutnya dan seterusnya.

Pada awal masa prasajarah, kemampuan manusia terbatas, baik keterbatasan pada peralatan maupun keterbatasan pada pemikiran. Keterbatasan itu menyebabkan pengamatannya menjadi kurang seksama, dan cara pemikiran sederhana menyebabkan hasil pemecahan masalah memberikan kesimpulan yang kurang tepat. Dengan demikian, pengetahuan yang terkumpul belum dapat memberikan kepuasan terhadap rasa ingin tahu manusia, dan masih jauh dari kebenaran.

Perkembangan selanjutnya adalah memenuhi kebutuhan non fisik atau kebutuhan pikirannya, jadi tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terputuskan atas dasar pengamatan maupun pengalaman saja untuk memuaskan alam pikirannya. Manusia mereka-reka sendiri jawabannya sebagai contoh: mengapa gunung meletus? Karena tidak tahu jawabannya maka mereka mereka-reka sendiri dengan jawaban, “yang berkuasa dari gunung sedang marah” maka muncul pengetahuan baru yang disebut berkuasa. Dengan menggunakan jalan pikiran yang sama muncullah anggapan adanya pohon yang besar, matahari, bulan, kilat, atau raksasa yang menelan bulan  saat gerhana bulan. Pengetahuan-pengetahun yang baru bermunculan dan merupakan gabungan dari pengalaman dan kepercayaan kita sebut mitos. Adapun cerita yang berdasarkan  mitos ini di sebut legenda.

Dalam proses pertumbuhan dar perkembangan ilmu pengetahuan, manusia tidak pernah merasa puas dengan hanya meninjau sesuatu dari sudut umumnya saja melainkan juga ingin memperhatikan hal-hal yang khusus. Maka timbullah inisiatif manusia untuk melakukan penyelidkan, jika penyelidikan ini telah mencapai tingkat tinggi, maka cabang penyelidikan itu akan melepaskan diri dari filsafat. Walaupun lambat laun banyak ilmu pengetahuan yang melepaskan diri dari filsafat, bukan berarti ilmu pengetahuan itu tidak membutuhkan bantuan filsafat. Sebagai salah satu usaha untuk mencap[ai kebenaran adalah dengan cara berfikir filosofis atau berfikir ilmiah akan tetapi suatu teori filsafat benar bila ia dapat di pertanggungjawabkan secara logis dan untuk selama-lamanya tidak akan dapat di buktikan secara empiris. Bila suatu saatdapat di nbuktikan secara empiris, maka ia akan segera menjadi ilmu.

Dalam ilmu pengetahuan filsafat mempunyai keduidukan yang sentral,asal atau pokok. Pada dasarnya ilmu yang berkembang dewasa ini sebagian besar berasal dari filsafat, oleg sebab itu maka filsafat di sebut sebagai induk pengetahuan dapat di simpulkan bahwa ilmu pengetahuan itu meneruima dasaranya dari filsafat dengan rincian antara lain :

  1. Setiap ilmu pengetahuan itu memilik objek dan problem
  2. Filsafat juga memberikan dasar-dasar yang umum bagi semua ilmu pengetahuan dengan dasar yang umum itu di rumuskan keadaan dan ilmu pengetahuan itu.
  3. di samping filsafat juga memberikan dasar-dasar yang khusus yang di gunakan dalam tiap-tiap ilmu pengetahuan.
  4. dasar yang di berikan dalam ilmu filsafat yaitu mengenai sifat –sifat ilmu dari pada semu ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan memp[eroleh sifat ilmu itu kalau menempati syarat-syarat yang telah di tentukan oleh flsafat. Artinya tidak mungkin tiap ilmu itu menunggalkan dirinya sebagai ilmu prengetahuan dengan mennggalkan syarat-syarat yang di tentukan oleh filsafat.
  5. Filsafat juga memberikan metode atau cara kepada tiap ilmu pengetahuan.

Banyak literature yang menyebutkan bahwa lahirnya ilmu alamiah tidak terlepas dari lahirnya filsafat ilmu alamiah (filsafat sains), yaitu cara memandang tentang alam semesta dengan menggunakan kekuatan atau daya fikir manusia. jadi sebelum mereka menemukan konsep atau teori ilmu alamiah, mereka menggali dengan berfilsafat tentang alam semesta.

Kedalaman filsafat seseorang tentang alam semesta sangat tergantung kepada daya jelajah pikiran seseorang. Tanda-tanda manusia berfikir tentang alam sesungguhnya telah dimulai sejak zaman kuno;pada 3000 SM. Pada tahun 2980 SM muncul kerajaan Mesir yang wilayahnya tidak jauh dari lembah babylonia, kerajaan ini memiliki warga yang sudah mengenal konsep-konsep matematika dan alam.hal ini dibuktikan dengan adanya bangunan piramida sebagai tempat peibadatan dan pemakaman raja-raja. Konsep-konsep tentang alam semesta itu, di masa kejayaan Babylonia dan Mesir ditemukan atau digali dengan metode yang masih relatif sederhana (dari ukuran sekarang).

Sebagaimana yang telah diutarakan bahwa manusia menggunakan filsafat untuk mengetahui rahasia alam dengan mengadakan pengamatan dan penggunaan pengalaman tapi sering tidak dapat menjawab masalah. Karena manusia pada waktu itu tidak tahu jawabannya, maka mereka mencoba menjawabnya dengan membuat jawaban sendiri. Misalnya “mengapa gunung meletus” mereka menjawab “yang bekuasa pada gunung itu sedang marah” dari jawaban tersebut muncullah pengetahuan yang disebut “yang berkuasa” pengetahuan baru yang merupakan gabungan pengalaman dan kepercayaan disebut “mitos” adapun cerita yang berdasarkan mitos disebut “legenda”. Mitos dapat diterima orang pada waktu itu karena keterbatasan penginderaan, penalaran, dan hasrat ingi tahu yang perlu segera dipenuhi. Sehubungan dengan kemajuan zaman, maka lahirlah ilmu pengetahuan dan metode pemecahan masalah secara alamiah yang kemudian terkenal dengan nama metode ilmiah (scientific method).

Puncak pemikiran mitos adalah pada zaman BABYLONIA (kira-kira 700-600 SM) mereka berpendapat bahwa alam semesta itu sebagai ruang setengah bola dengan bumi yang datar sebagai lantainya, dan langit dengan bintang-bintang sebagai atapnya  yang menakjubkan adalah bahwa mereka telah mengenal ekliptika atau bidang edar matahari, dan menetapkan perhitungan satu tahun yaitu satu kali matahari beredar kembali ketempat semula (365,25 hari). Rasi bintang yang kita kenal pada saat ini berasal zaman Babylonia ini, yang mana pengetahuan dan ajarannya setengahnya memang bereasal dari hasil pengamatan dan pengalaman, namun setengahnya lagi merupakan dugaan, imajinasi, kepercayaan atau mitos. Pengetahuan semacam itu dapat disebut sebagai SAINS PALSU (Pseudo Science).

Selanjutnya berdasarkan kemampuan berfikir manusia yang makin maju dan perlengkapan pengamatan yang makin sempurna, maka mitos dengan berbagai legendanya makin ditinggalkan orang, dan cenderung menggunakan akal sehat dan rasio.          Akhirnya pemikiran tentang alam semesta mulai dikembangkan oleh banyak orang ketika orang sudah tidak menggunakan dasar mitos sebagai media penemuan dengan pandangan bahwa mitos bukan segalanya.

Kalau dilihat dari sejarah perkembangan alam fikir manusia dari masa Babylonia sampai era 1880-an, metode atau cara berfikir manusia untuk menggali kebenaran atau mencari pengetahuan yang benar, dapat dibuat suatu alur perkembangan sehingga menjadi delapan tahapan sebagai berikut :

Mitos (3000 SM)

Deduktif Sederhana (625 SM)

Deduktif Antropologis (500 SM)

Deduktif (Dialogisme dan Silogisme) (400 SM)

Eksperimentasi Sederhana (masa Iskandariah 300 SM)

Eksperimentasi, Intlektual, Intuitif (masa Islam  800 M)

Induktif (masa Renaissance 1400 M)

Pendekatan Ilmiah (era 1880 –an)

Secara metodik ada tiga pendekatan dalam perkembangan berfikir manusia, yaitu mitos, penalaran dan pendekatan ilmiah (pendekatan ilmu pengetahuan). Mitos, seperti yang telah dijelaskan dibagian depan, bahwa mitos adalah suatu kebenaran yang dibangun berdasarkan cerita atau legenda yang dihubungkan dengan suatu keyakinan kepada tuhan atau kekuatan lain diluar ketuhanan. Cara mitos untuk menggali kebenaran sesungguhnya tidak banyak menggunakan pikiran atau akal karena mitos dibangun dari pengalaman-pengalaman spiritual seseorang yang dianggap mempunyai kedekatan dengan dewa atau tuhan. Pengalaman-pengalaman itu semakin lama menjadi sesuatu cerita yang melegenda sehingga menjadi pengetahuan yang sulit ditelusuri sumbernya. Jadi kebenaran mitos diperoleh oleh seseorang hanya dengan percaya pada cerita atau legenda tanpa melibatkan kerumitan berfikir atau bernalar.

Ada kontradiksi interpretasi antara penalaran dengan mitos, metode penalaran lebih banyak menggunakan proses berpikir, apa sebab? Karena proses berpikir adalah suatu refleksi yang teratur dan hati-hati. Proses berpikir itu muncul pada seseorang dari suatu rasa sangsi (gap) antara kenyataan dan keinginan untuk memperoleh suatu ketentuan yang kemudian muncul menjadi masalah yang khas biasanya metode penalaran ini lebih banyak digunakan oleh para ilmuan untuk berargumen dalam sebuah diskusi, simposium, atau seminar. Cara ini lebih baik dari pada mitos, terutama untuk tujuan komunikasi keilmuan dan pendidikan.

Sedangkan pendekatan ilmiah, adalah metode berfikir untuk menggali kebenaran dengan memperhatikan wilayah abstraksi keilmuan. Abstraksi keilmuan seperti teori, hukum, hipotesis dan dalil adalah merupakan tonggak pembatas bagi komunikasi seseorang dalam pendekatan ilmiah. Pada hakikatnya seseorang yang berfikir secara ilmiah merupakan gabungan antara penalaran ilmiah secara deduktif dan induktif. Oleh sebab itu, seseorang yang menggunakan pendekatan ilmiah dituntut menggunakan dasar rasionalisme dan empirisme.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 20, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: