RSS

Sejarah Kelahiran Sains dan Teknologi


Manusia adalah mahluk Allah yang sangat sempurna karena mendapatkan kebaikan yaitu berupa akal dan pikiran. Manusia sebagai mahluk yang berfikir dibekali rasa ingin tahu, rasa ingin tahu inilah yang mendorong untuk mengenal dan menjelaskan segala permasalahan dan gejala-gejala alam. Serta berusaha memecahkan segala permasalahannya.

Manusia sebagai mahluk hidup, melalui panca indranya memberikan tanggapan terhadap semua rangsangannya, termasuk gejala alam sementara ini. Tanggapan terhadap gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa alam merupakan suatu pengalaman, pengalaman itu dari zaman kezaman akan berakumulasi, karena manusia mempunyai rasa ingin tahu atau koriositas terhadap segalanya di alam semesta ini.

Pengalaman merupakan salah satu cara terbentuknya pengetahuan yakni perkumpulan fakta-fakta. Dan pengalaman akan terus berkembang da turun temurun pada generasi selanjutnya. Pertambahan pengetahuan seperti yang telah dikemukakan di dorong oleh:

  1. Dorongan untuk memuaskan diri yang bersifat non praktis guna memenuhi kuriositas dan memahami tentang hakikat alam semesta dan isinya.
  2. Dorongan praktis yang memamfaatkan pengetahuan itu untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih tinggi

Ilmu alamiah merupakan kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis artinya kegiatan manusia yang tiada hentinya dari hasil percobaan akan menghasilkan konsep, selanjutnya dari konsep itu mendorong percobaan berikutnya dan seterusnya.

Pada awal masa prasajarah, kemampuan manusia terbatas, baik keterbatasan pada peralatan maupun keterbatasan pada pemikiran. Keterbatasan itu menyebabkan pengamatannya menjadi kurang seksama, dan cara pemikiran sederhana menyebabkan hasil pemecahan masalah memberikan kesimpulan yang kurang tepat. Dengan demikian, pengetahuan yang terkumpul belum dapat memberikan kepuasan terhadap rasa ingin tahu manusia, dan masih jauh dari kebenaran.

Perkembangan selanjutnya adalah memenuhi kebutuhan non fisik atau kebutuhan pikirannya, jadi tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terputuskan atas dasar pengamatan maupun pengalaman saja untuk memuaskan alam pikirannya. Manusia mereka-reka sendiri jawabannya sebagai contoh: mengapa gunung meletus? Karena tidak tahu jawabannya maka mereka mereka-reka sendiri dengan jawaban, “yang berkuasa dari gunung sedang marah” maka muncul pengetahuan baru yang disebut berkuasa. Dengan menggunakan jalan pikiran yang sama muncullah anggapan adanya pohon yang besar, matahari, bulan, kilat, atau raksasa yang menelan bulan  saat gerhana bulan. Pengetahuan-pengetahun yang baru bermunculan dan merupakan gabungan dari pengalaman dan kepercayaan kita sebut mitos. Adapun cerita yang berdasarkan  mitos ini di sebut legenda.

Dalam proses pertumbuhan dar perkembangan ilmu pengetahuan, manusia tidak pernah merasa puas dengan hanya meninjau sesuatu dari sudut umumnya saja melainkan juga ingin memperhatikan hal-hal yang khusus. Maka timbullah inisiatif manusia untuk melakukan penyelidkan, jika penyelidikan ini telah mencapai tingkat tinggi, maka cabang penyelidikan itu akan melepaskan diri dari filsafat. Walaupun lambat laun banyak ilmu pengetahuan yang melepaskan diri dari filsafat, bukan berarti ilmu pengetahuan itu tidak membutuhkan bantuan filsafat. Sebagai salah satu usaha untuk mencap[ai kebenaran adalah dengan cara berfikir filosofis atau berfikir ilmiah akan tetapi suatu teori filsafat benar bila ia dapat di pertanggungjawabkan secara logis dan untuk selama-lamanya tidak akan dapat di buktikan secara empiris. Bila suatu saatdapat di nbuktikan secara empiris, maka ia akan segera menjadi ilmu.

Dalam ilmu pengetahuan filsafat mempunyai keduidukan yang sentral,asal atau pokok. Pada dasarnya ilmu yang berkembang dewasa ini sebagian besar berasal dari filsafat, oleg sebab itu maka filsafat di sebut sebagai induk pengetahuan dapat di simpulkan bahwa ilmu pengetahuan itu meneruima dasaranya dari filsafat dengan rincian antara lain :

  1. Setiap ilmu pengetahuan itu memilik objek dan problem
  2. Filsafat juga memberikan dasar-dasar yang umum bagi semua ilmu pengetahuan dengan dasar yang umum itu di rumuskan keadaan dan ilmu pengetahuan itu.
  3. di samping filsafat juga memberikan dasar-dasar yang khusus yang di gunakan dalam tiap-tiap ilmu pengetahuan.
  4. dasar yang di berikan dalam ilmu filsafat yaitu mengenai sifat –sifat ilmu dari pada semu ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan memp[eroleh sifat ilmu itu kalau menempati syarat-syarat yang telah di tentukan oleh flsafat. Artinya tidak mungkin tiap ilmu itu menunggalkan dirinya sebagai ilmu prengetahuan dengan mennggalkan syarat-syarat yang di tentukan oleh filsafat.
  5. Filsafat juga memberikan metode atau cara kepada tiap ilmu pengetahuan.

Banyak literature yang menyebutkan bahwa lahirnya ilmu alamiah tidak terlepas dari lahirnya filsafat ilmu alamiah (filsafat sains), yaitu cara memandang tentang alam semesta dengan menggunakan kekuatan atau daya fikir manusia. jadi sebelum mereka menemukan konsep atau teori ilmu alamiah, mereka menggali dengan berfilsafat tentang alam semesta.

Kedalaman filsafat seseorang tentang alam semesta sangat tergantung kepada daya jelajah pikiran seseorang. Tanda-tanda manusia berfikir tentang alam sesungguhnya telah dimulai sejak zaman kuno;pada 3000 SM. Pada tahun 2980 SM muncul kerajaan Mesir yang wilayahnya tidak jauh dari lembah babylonia, kerajaan ini memiliki warga yang sudah mengenal konsep-konsep matematika dan alam.hal ini dibuktikan dengan adanya bangunan piramida sebagai tempat peibadatan dan pemakaman raja-raja. Konsep-konsep tentang alam semesta itu, di masa kejayaan Babylonia dan Mesir ditemukan atau digali dengan metode yang masih relatif sederhana (dari ukuran sekarang).

Sebagaimana yang telah diutarakan bahwa manusia menggunakan filsafat untuk mengetahui rahasia alam dengan mengadakan pengamatan dan penggunaan pengalaman tapi sering tidak dapat menjawab masalah. Karena manusia pada waktu itu tidak tahu jawabannya, maka mereka mencoba menjawabnya dengan membuat jawaban sendiri. Misalnya “mengapa gunung meletus” mereka menjawab “yang bekuasa pada gunung itu sedang marah” dari jawaban tersebut muncullah pengetahuan yang disebut “yang berkuasa” pengetahuan baru yang merupakan gabungan pengalaman dan kepercayaan disebut “mitos” adapun cerita yang berdasarkan mitos disebut “legenda”. Mitos dapat diterima orang pada waktu itu karena keterbatasan penginderaan, penalaran, dan hasrat ingi tahu yang perlu segera dipenuhi. Sehubungan dengan kemajuan zaman, maka lahirlah ilmu pengetahuan dan metode pemecahan masalah secara alamiah yang kemudian terkenal dengan nama metode ilmiah (scientific method).

Puncak pemikiran mitos adalah pada zaman BABYLONIA (kira-kira 700-600 SM) mereka berpendapat bahwa alam semesta itu sebagai ruang setengah bola dengan bumi yang datar sebagai lantainya, dan langit dengan bintang-bintang sebagai atapnya  yang menakjubkan adalah bahwa mereka telah mengenal ekliptika atau bidang edar matahari, dan menetapkan perhitungan satu tahun yaitu satu kali matahari beredar kembali ketempat semula (365,25 hari). Rasi bintang yang kita kenal pada saat ini berasal zaman Babylonia ini, yang mana pengetahuan dan ajarannya setengahnya memang bereasal dari hasil pengamatan dan pengalaman, namun setengahnya lagi merupakan dugaan, imajinasi, kepercayaan atau mitos. Pengetahuan semacam itu dapat disebut sebagai SAINS PALSU (Pseudo Science).

Selanjutnya berdasarkan kemampuan berfikir manusia yang makin maju dan perlengkapan pengamatan yang makin sempurna, maka mitos dengan berbagai legendanya makin ditinggalkan orang, dan cenderung menggunakan akal sehat dan rasio.          Akhirnya pemikiran tentang alam semesta mulai dikembangkan oleh banyak orang ketika orang sudah tidak menggunakan dasar mitos sebagai media penemuan dengan pandangan bahwa mitos bukan segalanya.

Kalau dilihat dari sejarah perkembangan alam fikir manusia dari masa Babylonia sampai era 1880-an, metode atau cara berfikir manusia untuk menggali kebenaran atau mencari pengetahuan yang benar, dapat dibuat suatu alur perkembangan sehingga menjadi delapan tahapan sebagai berikut :

Mitos (3000 SM)

Deduktif Sederhana (625 SM)

Deduktif Antropologis (500 SM)

Deduktif (Dialogisme dan Silogisme) (400 SM)

Eksperimentasi Sederhana (masa Iskandariah 300 SM)

Eksperimentasi, Intlektual, Intuitif (masa Islam  800 M)

Induktif (masa Renaissance 1400 M)

Pendekatan Ilmiah (era 1880 –an)

Secara metodik ada tiga pendekatan dalam perkembangan berfikir manusia, yaitu mitos, penalaran dan pendekatan ilmiah (pendekatan ilmu pengetahuan). Mitos, seperti yang telah dijelaskan dibagian depan, bahwa mitos adalah suatu kebenaran yang dibangun berdasarkan cerita atau legenda yang dihubungkan dengan suatu keyakinan kepada tuhan atau kekuatan lain diluar ketuhanan. Cara mitos untuk menggali kebenaran sesungguhnya tidak banyak menggunakan pikiran atau akal karena mitos dibangun dari pengalaman-pengalaman spiritual seseorang yang dianggap mempunyai kedekatan dengan dewa atau tuhan. Pengalaman-pengalaman itu semakin lama menjadi sesuatu cerita yang melegenda sehingga menjadi pengetahuan yang sulit ditelusuri sumbernya. Jadi kebenaran mitos diperoleh oleh seseorang hanya dengan percaya pada cerita atau legenda tanpa melibatkan kerumitan berfikir atau bernalar.

Ada kontradiksi interpretasi antara penalaran dengan mitos, metode penalaran lebih banyak menggunakan proses berpikir, apa sebab? Karena proses berpikir adalah suatu refleksi yang teratur dan hati-hati. Proses berpikir itu muncul pada seseorang dari suatu rasa sangsi (gap) antara kenyataan dan keinginan untuk memperoleh suatu ketentuan yang kemudian muncul menjadi masalah yang khas biasanya metode penalaran ini lebih banyak digunakan oleh para ilmuan untuk berargumen dalam sebuah diskusi, simposium, atau seminar. Cara ini lebih baik dari pada mitos, terutama untuk tujuan komunikasi keilmuan dan pendidikan.

Sedangkan pendekatan ilmiah, adalah metode berfikir untuk menggali kebenaran dengan memperhatikan wilayah abstraksi keilmuan. Abstraksi keilmuan seperti teori, hukum, hipotesis dan dalil adalah merupakan tonggak pembatas bagi komunikasi seseorang dalam pendekatan ilmiah. Pada hakikatnya seseorang yang berfikir secara ilmiah merupakan gabungan antara penalaran ilmiah secara deduktif dan induktif. Oleh sebab itu, seseorang yang menggunakan pendekatan ilmiah dituntut menggunakan dasar rasionalisme dan empirisme.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 20, 2011 in Uncategorized

 

Perkembangan dan Pengaruh Sains dan Teknologi dalam Islam

 

Pada abad ke-8 hingga abad ke-12 M, umat Islam berada pada zaman kejayaannya, zaman dimana sains, teknologi dan peradaban Islam berkembang pesat mencapai puncaknya. Pada saat itu umat Islam menjadi pemimpin dunia karena pergumulannya dengan ilmu dan filsafat yang mereka tekuni, terutama ilmu-ilmu murni (natural sciences). Pada masa ini muncul tokoh-tokoh dan ilmuwan yang sangat aktif dan handal, sebut saja misalnya: Al-Kindi, Al-Khawarizmi, Al-Razi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Al-Ghazali, dan lain-lainnya. Para ilmuwan tersebut oleh Sayyed Hossein Nasr (1970) disebut sebagai figur-figur universal ilmu pengetahuan Islam.

Pada abad ke 14 M, diawali oleh lepasnya ilmu-ilmu alam (matematika, fisika, biologi)yang dimotori oleh Copernicus (1473-1543), Versalinus (1514-1564) dan Issac Newton (1642-1727) ilmu pengetahuan mulai tercerabut dari akar filosofisnya. Khususnya perkembangan ini semakin mencapai bentuknya secara definitif saat Aguguste Comte (1798-1857) dengan grand theory-nya menetapkan bahwa perkembangan berfikir manusia dan masyarakat akan mencapai puncaknya pada tahap positif, setelah melampaui tahap teologik dan metafisik.

Perkembangan ilmu pengetahuan (sains) di akhir abad ke-16 telah menciptakan persepsi masyarakat Barat berbeda dari masa-masa perintisannya di Yunani. Sebab, jika sains tidak lain adalah “anak kandung” filsafat, maka tradisi ilmiah dalam kehidupan masyarakat Barat modern tidak lainmerupakan kelanjutan dari perjalanan panjang tradisi Yunani Kuno.

Sampai memasuki abad ke 20 M, “revolusi” sains dan teknologi di Barat masih terus berlangsung, berbagai penemuan telah merombak teori-teori yang sudah mapan sebelumnya. Etos dan cara pandang Barat modern telah menumbuhkan optimisme terhadap sains dan teknologi dalam meningkatkan fasilitas hidup, namun juga pesimisme terhadap dampak negatif yang ditimbulkannya juga semakin nyata. Pesimisme itu bukan saja telah menghantui para konsumen beserta lingkungannya, tetapi terutama kepada masyarakat Barat sendiri sebagai produsen utamanya.

Namun pada akhir abad ke -20 M, etos keilmuan dengan cara pandang seperti itu mulai diharapkan pada kecenderungan baru yang lebih memperhatikan dunia spiritual (moral, etika, dan peradaban). Dan melalui argumen-argumen filosofis dan penemuan mutakhir tentang sains dan teknologi, berfikir dikotomis tentang moral (agama) dan sains (termasuk teknologi) memang sudah saatnya dikoreksi kembali.

Sejak masuknya teknologi Barat ke Dunia Ketiga bersama-sama slogan saintifik yang dibawanya, masyarakat Dunia Ketiga yang sekian lama terjajah itu mula mendapat satu formula ajaib yang dianggap dapat membebaskan diri mereka daripada belenggu penjajahan yang sebenarnya. Kebebasan ini dianggap sebagai satu kebebasan yang mutlak dan sangat perlu walaupun terpaksa mengorbankan begitu banyak sumber asli yang sekian lama terpendam dalam perut bumi negara masing-masing. Walaupun harga yang perlu dibayar bagi mendapatkan hasil teknologi ini begitu tinggi namun mereka menganggapnya satu kemestian yang tidak dapat dikesampingkan. Umumnya Dunia Ketiga mendapat hasil teknologi tersebut untuk kemudahan pengangkutan, ketenteraan, kejuruteraan, pembangunan dan sebagainya, namun mereka tidak mendapat ilmu yang sangat diperlukan untuk ‘maju’ dan ‘membangun’ itu. Mereka hidup seperti kanak-kanak yang hanya menggunakan permainan dan tidak tahu asal-usul kemunculan barang-barang permainan itu. Nasib mereka, walau bagaimanapun, lebih baik daripada kanak-kanak karena mereka dapat menukar barang-barang yang diperlukan dengan hasil bumi yang terdapat di negara masing-masing.

Dunia Ketiga merupakan medan sejarah pembangunan dan penjajahan kuasa Barat. Dari satu segi, pemerintahan Dunia Ketiga tidak pernah bebas dari campur tangan kuasa-kuasa Barat. Hampir kebanyakan bumi Dunia Ketiga menerima dampak Peperangan Dunia I dan II; dampak yang tidak diminta atau diingini oleh dunia ketiga sendiri. Kedua peperangan ini meninggalkan dampak zahir dan batin ke atas diri Dunia Ketiga umumnya. Kecuali kenaikan harga getah, peperangan tersebut meninggalkan dampak ekonomi yang buruk ke atas kebanyakan negara Dunia Ketiga dan secara tidak langsung berkaitan dengan dampak psikologi yang terus melukakan fikiran dan sekaligus menguasai pandangan serta pendapat kebanyakan manusia yang tinggal dalam Dunia Ketiga. Dampak di dalam bentuk lanjutan daripada penjajahan menyuburkan dampak psikologi masyarakat Dunia Ketiga.

Dalam situasi begini negara-negara Islam dihimpit dengan sekuat-kuatnya untuk berubah dan maju supaya dapat mengikut arus pengaliran masa dan kehendak antarabangsa yang telah dijalin dan diwarnai dengan kemahuan prinsip, pandangan hidup dan mahukan hasil yang sedia disuratkan oleh kuasa-kuasa besar itu.

Di antara kemenangan psikologi akibat sejarah kebangkitan teknologi dan sains, juga akibat peperangan bahwa sains dan teknologi memudahkan kehidupan manusia, muncul komplot memperalatkan sains dan teknologi untuk mendapatkan keuntungan besar. Secara mudah dapat dikatakan bahawa ekonomi dan menguasai sains dan teknologi semua pilihan pembangunannya. Pernytaaan ini yang jarang disadari oleh masyarakat umum dan sebahagian daripada golongan intelek Dunia Ketiga, menjelaskan mengapa sains dan teknologi secara psikologi terus-menerus dianggap satu hakikat mutlak yang sekaligus merupakan hakikat kenbenaran dan juga hakikat kenyataan.

Pola penerimaan sains dan teknologi tanpa penilaian serta penapisan yang wajar dapat dilihat dalam ‘desakan’ mengikuti aliran sains di sekolah-sekolah di negara-negara Islam pada tahun enam puluhan dan tujuh puluhan. Kebanyakan murid yang dianggap cerdik dinasihatkan seberapa yang boleh mengikuti aliran sains. Di samping lain-lain dampak yang diterima dan ditanggung oleh kanak-kanak tersebut, universiti-universiti di seluruh negara Islam dibanjiri oleh penuntut-penuntut aliran sains yang umumnya mempercayai bahawa mereka telah dialirkan ke dalam jurusan yang mulia, kukuh benar dan membanggakan. Pelajar-pelajar aliran sastera dibiarkan ‘terbeku’ dengan kursus-kursus yang lapuk, dan sekadar mencukupi untuk menjalankan kerja-kerja umum pentadbiran manakala pelajar-pelajar aliran sains hanya didedahkan kepada prinsip-prinsip sains seperti amalan negara maju tanpa mengetahui falsafah dan had batasan akan apa yang mereka pelajari itu. Akirnya negara-negara Islam dibanjiri ahli-ahli sains yang mngajar bidang fisika, kimia, biologit dan matematika, sedangkan tidak terdapat ahli akademik yang mencukupi untuk mengajar falsafah sains, falsafah Barat, falsafah umum dan juga falsafah Islam atau falsafah agama iaitu bidang yang dapat memberi imbanagan di dalam desakan pemujaan terhadap sains dan teknologi.

Selain daripada percobaan yang dibuat oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rashid Redha, Muhammad Iqbal dan Sayyid Ahmad Khan, (semua tokoh ini pernah dikritik oleh Maryam Jameelah. Rujuk bukunya Islam and Modernism dan Islam and Orientalism dan lain-lain. – pent.) boleh dikatakan gerakan menghidupkan kembali sains Islam hampir-hampir sepi hingga saat ini. Mereka umumnya masih terikat kepada rangka pemikiran yang disedut falsafah sains barat. Ketajaman Syed Qutb, al-Bahi dan Mahmud al-Aqqad juga tidak dapat melintasi tembok kokoh sains dan falsafah Barat.

Pada masa ini banyak pula sarjana Islam membicarakan program bagi mewujudkan sains Islam yang sebenarnya bukan saja untuk masa ini tetapi juga untuk masa akan datang. Kebanyakan mereka lebih mementingkan program tindakan yang aktif walaupun isi kandungan konsep sains dan teknologi yang ingin diketengahkan belum ada. Di samping menerima bahan yang ingin dipersembahkan oleh golongan ini, kami ingin menyebut dua nama utama dalam kesarjanaan Islam masa ini yang memeberikan sumbangan iaitu Prof. Seyyed Hossein Nasr dan Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Syed Muhammad Naquib al-Attas merupakan tokoh ilmuwan mutakhir yang mengupas semula definisi penting keilmuan Islam berdasarkan metafisik Sufisme yang tidak dapat tidak berlandaskan al-Qur’an dan Hadith Nabi (s.a.w.). Beberapa definisi ilmu dan ‘al-mithaq’ atau pensaksian azali arwah bani Adam dengan Tuhannya telah dibincangkan oleh tokoh ahli Sufi yang terkenal pada zaman dahulu seperti Junayd alBaghdadi dan Abu Ali Uthman al-Hujwiri. Apa yang penting dalam penulisan Prof. Naquib ialah menyusun semula definisi dan rangka konsep yang tersedia ada ke dalam bentuk yang lebih tersusun dan berkaitan di antara konsep-konsep tersebut dengan pandangan hidup Islam amnya. Beliau merupakan tokoh yang awal sekali membedakan prinsip-prinsip dan definisi asas yang membedakan sekularisme Barat dengan pandangan Islam tentang konsep ilmu dan cabang-cabang serta kaedah keilmuannya. Beliau juga tokoh awal sezaman yang membicarakan peranan Islam dalam pembentukan tamadun budaya bangsa yand didatanginya.

Seyyed Hossein Nasr merupakan tokoh awal menulis tentang falsafah dan sains Islam dengan memperkenalkan rangka keilmuan, kaedah serta pandangan hidup. Beliau juga memperkenalkan tokoh ilmuwan Islam yang besar seperti Ikwan al-Safa, al-Biruni dan Ibn Sina, Ibn Arabi, Suhrawardi dan Mulla Sadra kepada dunia akademik Barat dan Timur. Dr. Nasr telah memperkenalkan mereka menurut tradisi falsafah Islam serta doktrin ciri dan sifat keilmuan tokoh-tokoh ini. Beliau merupakan tokoh ilmuwan Islam yang membicarakan secara mendalam tentang ‘ilmu kudus’ yang senantiasa menjadi asas kepada reality manusia secara universal. Dr. Nasr juga banyak menulis tentang kesenian dan kesasteraan Islam serta perbandingan agama. Beliau merupakan tokoh awal yang menunjukkan bahawa tradisi falsafah Islam tidak terhenti pada Ibn Rushd tetapi bersambung di dunia timur Islam dengan Sayyid Haidar Amuli, Suhrawardi dan Mulla Sadra. Dalam bidang sains dan falsafah sains beliau menunjukkan bahawa Islam menerusi tamadunnya melahirkan sainsnya sendiri yang mempunyai dan sifatnya yang tersendiri dan mampu memasukkan nilai-nilai serta kaedah yang sesuai dan serasi daripada tamadun lain. Dr. Nasr melebihi tokoh-tokoh lain dan merupakan sumber rujukan bagi mereka yang membicarakan sejarah sains Islam. Beliau merupakan tokoh awal Islam yang mengkritik kemajuan sains Barat yang telah mendatangkan masalah ekologi, krisis kemanusiaan dan kemasyarakatan. Semua ini dilihat daripada sudut pandangan Islam, sufisme dan agama umumnya.[az]

http://blog.uin-malang.ac.id/abdulaziz/2010/06/30/kesaintekan/

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 20, 2011 in Uncategorized

 

Persepsi Islam terhadap Perkembangan Sains dan Teknologi

 

Kaum muslimin rahimakumullah!Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dan selalu bersyukur kepada Allah yg telah mengaruniai agama Islam sebagai pedoman hidup yg lurus lengkap dan sempurna sebagaimana ditegaskan dalam Alquran surat Al-Maidah ayat tiga yg artinya “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku cukupkan kepadamu ni’mat-Ku dan telah Aku ridhai Islam menjadi agamamu.” Kaum muslimin yg berbahagia!Salah satu keagungan ni’mat yg dikaruniakan Allah bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah ni’mat ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan sains dan teknologi telah memberikan kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia sekaligus merupakan sarana bagi kesempurnaan manusia sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya krn Allah telah mengaruniakan anugerah keni’matan kepada manusia yg bersifat saling melengkapi yaitu anugerah agama dan keni’matan sains teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua sosok yg tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Ilmu adl sumber teknologi yg mampu memberikan kemungkinan munculnya berbagai penemuan rekayasa dan ide-ide. Adapun teknoogi adl terapan atau aplikasi dari ilmu yg dapat ditunjukkan dalam hasil nyata yg lbh canggih dan dapat mendorong manusia utk berkembang lbh maju lagi. Sebagai umat Islam kita harus menyadari bahwa dasar-dasar filosofis utk mengembangkan ilmu dan teknologi itu bisa dikaji dan digali dalam Alquran sebab kitab suci ini banyak mengupas keterangan-keterangan mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai contoh adl firman Allah SWT dalam surat Al-Anbiya ayat 80 yg artinya “Telah kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi utk kamu guna memelihara diri dalam peperanganmu.” Dari keterangan itu jelas sekali bahwa manusia dituntut utk berbuat sesuatu dgn sarana teknologi. Sehingga tidak mengherankan jika abad ke-7 M telah banyak lahir pemikir Islam yg tangguh produktif dan inofatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kepeloporan dan keunggulan umat Islam dalam bidang ilmu pengetahuan sudah dimulai pada abad itu. Tetapi sangat disayangkan bahwa kemajuan-kemajuan itu tidak sempat ditindaklanjuti dgn sebaik-baiknya sehingga tanpa sadar umat Islam akhirnya melepaskan kepeloporannya. Lalu bangsa Barat dgn mudah mengambil dan menransfer ilmu dan teknologi yg dimiliki dunia Islam dan dgn mudah pula mereka membuat licik yaitu membelenggu para pemikir Islam sehinggu sampai saat ini bangsa Baratlah yg menjadi pelopor dan pengendali ilmu pengetahuan dan teknologi. Kaum muslimin rahimakumullah!Begitulah menurut catatan sejarah bangsa Barat berhasil mengambil khazanah ilmu pengetahuan yg telah dikembangkan lbh dahulu oleh kaum muslimin kemudian mereka mengembangkannya di atas paham materialisme tanpa mengindahkan lagi nilai-nilai Islam sehingga terjadilah perubahan total sampai akhirnya terlepas dari sendi-sendi kebenaran. Para ilmuwan Barat dari abad ke abad kian mendewa-dewakan rasionalitas bahkan telah menuhankan ilmu dan teknologi sebagai kekuatan hidupnya. Mereka menyangka bahwa dgn iptek mereka pasti bisa mencapai apa saja yg ada di bumi ini dan merasa dirinya kuasa pula menundukkan langit bahkan mengira akan dapat menundukkan segala yg ada di bumi dn langit. Sehingga tokoh-tokoh mereka merasa mempunyai hak utk memaksakan ilmu pengetahuan dan teknologinya itu kepada semua yg ada di bumi agar mereka bisa mendikte dan memberi keutusan terhadap segala permasalahan di dunia. Sebenarnya masyarakat Barat itu patut dikasihani krn akibat kesombongannya itu mereka lupa bahwa manusia betapapun tingg kepandaiannya hanya bisa mengetahui kulit luar atau hal-hal yg lahiriah saja dari kehidupan semesta alam. Manusia hanya diberi ilmu pengetahuan yg sedikit dari kemahaluasan ilmu Allah. Di atas orang pintar ada lagi yg lbh pintar dan sungguh Allah SWT benci kepada orang yg hanya tahu tentang dunia tetapi bodoh tentang kebenaran yg ada di dalamnya. Allah SWT berfirman yg artinya “Celakalah bagi orang-orang kafir dgn siksa yg pedih. Mereka lbh menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat dan menghalangi manusia dari jalan Allah serta menginginkan agar jalan itu bengkok. Mereka berada dalam kesesatan yg nyata.” .

Kaum muslimin rahimakumullah!Peradaban modern adl hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yg gemilang yg telah dicapai oleh manusia setelah diadakan penelitian yg tekun dan eksperimen yg mahal yg telah dilakukan selama berabad-abad. Maka sudah sepantasnya kalau kemudian manusia menggunakan penemuan-penemuannya itu guna meningkatkan taraf hidupnya. Kemajuan teknologi secara umum telah banyak dini’mati oleh masyarakat luas dgn cara yg belum pernah dirasakan bahkan oleh para raja dahulu kala. Makanan lbh ni’mat dan beraneka ragam pakaian terbuat dari bahan yg jauh lbh baik dan halus sarana-sarana transportasi dan komunikasi yg kecepatannya amat mengagumkan gedung dan rumah tempat tinggal dibangun dengn megah dan mewah. Tampaknya manusia di masa depan akan mencapai taraf kemakmuran yg lbh tinggi dan memperoleh kemudahan-kemudahan yg lbh banyak lagi. Walaupun demikian kita juga menyaksikan betapa batin manusia zaman sekarang selalu mengerang krn sirat kerakusan manusia semakin merajalela dan perasaan saling iri di antara perorangan atau kelompok telah menyalakan api kebencian di mana-mana. Kata orang bijak di dunia sekarang ini nafsu manusia lbh besar daripada akal sahabatnya. Kebanyakan manusia di dunia kini hanya mengingat kesenangan hidupnya lupa kepada Tuhannya. Ia mengira bahwa dunia ini adl segalanya tak ada kelanjutannya dan tak ada kehidupan kecuali di dunia saja. Benar bahwa agama Islam tidak menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga tidak anti terhadap barang-barang produk teknologi baik di zaman lampau di masa sekarang maupun di waktu-waktu yg kan datang. Demikian pula ajaran Islam ia tidak akan bertentangan dgn teori-teori pemikiran modern yg teraturdan lurus dan analisa-analisa yg teliti dan obyekitf. Dalam pandangan Islam menurut hukum asalnya segala sesuatu itu adl mubah termasuk segala apa yg disajikan oleh berbagai peradaban baik yg lama ataupun yg baru. Semua itu sebagaimana diajarkan oleh Islam tidak ada yg hukumnya haram kecuali jika terdapat nash atau dalil yg tegas dan pasti mengherankannya. Bukanlah Alquran sendiri telah menegaskan bahwa agama Islam bukanlah agma yg sempit? Allah SWT telah berfirman yg artinya “Di sekali-kali tidak menjadikan kamu dalam agama suatu kesempitan.” .

Adapun peradaban modern yg begitu luas memasyarakatkan produk-produk teknologi canggih seperti televisi vidio alat-alat komunikasi dan barang-barang mewah lainnya serta menawarkan aneka jenis hiburan bagi tiap orang tua muda atau anak-anak yg tentunya alat-alat itu tidak bertanggung jawab atas apa yg diakibatkannya. Tetapi di atas pundak manusianyalah terletak semua tanggung jawab itu. Sebab adanya pelbagai media informasidn alat-alat canggih yg dimiliki dunia saat ini dapat berbuat apa saja kiranya faktor manusianyalah yg menentukan opersionalnya. Adakalanya menjadi manfaat yaitu manakala manusia menggunakan dgn baik dan tepat. Tetapi dapat pula mendatangkan dosa dan malapetaka manakala manusia menggunakannya utk mengumbar hawa nafsu dan kesenangan semata. Kaum muslimin rahimakumullah!Memang dalam abad teknologi dan era globalisasi ini umat Islam hendaklah emlakukan langkah-langkah strategis dgn meningkatkan pembinaan sumber daya manusia guna mewujudkan kualitas iman dn takwa serta tidk ketinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun seiring dgn upaya meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi kita pun harus jeli menentukan pilihan ini. Untuk apakah semua kemajuan itu? Apakah sekadar utk menuruti keinginan-keinginan syahwat lalu tenggelam dalam kemewahan dunia hingga melupakan akhirat dan menjadi pengikut-pengikut setan? Ataukah sebaliknya semua ilmu dan kemajuan itu dicari utk menegakkan syariat Allah guna memakmurkan bumi dan menegakkan keadilan seperti yg dikehendaki Allah serta utk meluruskan kehidupan dgn berlandaskan pada kaidah noral Islam? Itulah pertanyaan dan tantangn bagi kita yg haurs kita jawab dgn pemikiran yg berwawasan jauh ke depan.

Namun terlepas dari problema dan kekhawatiran-kekhawatiran sebagaimana diuraikan di atas kita sebagai umat Islam harus selalu optimis dan tetap bersyukur kepada Allah SWT. Karena sungguhpun perubahan sosial dan tta nilai kehidupan yg dibawa oleh arus modernisasi westernisasi dan sekularisasi terus-menerus menimpa dan menyerang masyarakat Islam tetapi kesadaran umat Islam utk membendung dampak-dampak negatif dari budaya Barat itu ternyata masih cukup tinggi meskipun hanya segolongan kecil umat yaitu mereka yg tetap teguh utk menegakkan nilai-nilai Islam. Akhirnya semoga dakwah yg singkat ini bermanfaat amin. Sumber Diadaptasi dari Khutbah Cendekiawan Menjembatani Kesenjangan Intelektualitas Umat Drs. Achmad Suyuti Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia sumber file al_islam.chm

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 17, 2011 in Uncategorized

 

Kemajuan Sains dan Teknologi Pada Masa Kekhilafahan Islam

Menelusuri sejarah peradaban kaum Muslim sama artinya dengan membuka kembali lembaran-lembaran sejarah yang menggambarkan kemajuan yang pernah diperoleh oleh generasi kaum Muslim terdahulu. Zaman keemasan kaum Muslim saat itu dikenal dengan sebutan The Golden Age. Pada saat itu, kaum Muslim berhasil mencapai puncak kejayaan sains dan ilmu pengetahuan yang memberikan kemaslahatan yang amat besar bagi peradaban umat manusia pada umumnya.

Pada masa itu, berbagai cabang sains dan teknologi lahir. Sains dan teknologi yang telah diletakkan dasar-dasarnya oleh peradaban-peradaban sebelum Islam mampu digali, dijaga, dikembangkan, dan dijabarkan, secara sederhana oleh kaum Muslim. Sains dan teknologi tersebut kemudian diwariskan kepada generasi dan peradaban modern serta turut memberikan andil yang amat besar bagi proses kebangkitan kembali (renaissance) bangsa-bangsa Eropa.

Bisa dikatakan, kebangkitan kembali bangsa Eropa yang memicu proses industrialisasi besar-besaran di Eropa dan Amerika tidak akan muncul jika para pionir Eropa tidak belajar kepada kaum Muslim. ‘Berkah’ Perang Salib yang berkecamuk hampir selama dua abad antara kaum Muslim dan Eropa yang Kristen telah membuka mata bangsa Eropa terhadap kemajuan sains dan teknologi yang dimiliki oleh kaum Muslim. Mereka masih sempat merampas buku-buku dan berbagai manuskrip kuno yang merekam perkembangan sains dan teknologi yang tersimpan di perpustakan-perpustakaan milik kaum Muslim, meskipun sebagian besarnya mereka bakar.

Untuk mengetahui betapa hebatnya kemajuan sains dan teknologi yang pernah dicapai oleh kaum Muslim pada masa pemerintahan para khalifah Islam di masa lalu, perjalanan tarikh kali ini akan menguak beberapa cabang sains dan teknologi.

A. Ilmu Bumi

Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Makmun (paruh pertama abad IX M), Al-Khawarizmi dan 99 orang asistennya telah membuat peta bumi sekaligus peta langit (peta bintang). Mereka berhasil mengukur lingkaran bumi dengan tingkat akurasi yang amat tinggi dengan dilandaskan pada pemahaman bahwa bumi itu bentuknya bulat. Kesimpulan tersebut diperoleh setelah eksperimen sederhana dilakukan di dataran Sinyar (dekat kota Palmyra). Dengan menggabungkan pengetahuan matematika sederhana (sinus, cosinus dan tangent) dengan sudut jatuh sinar matahari serta peredaran bumi dalam setahun, mereka menyimpulkan bahwa derajat zawal = 56 2/3 mil atau 959 yard lebih panjang dari nilai yang sebenarnya. Setelah diperoleh derajat zawal, mereka dapat menghitung panjang keliling bumi, yaitu 20.000 mil, dan jari-jari bumi 6.500 mil.

Pada saat yang sama, bangsa Eropa masih yakin bahwa bumi itu datar, hingga Columbus berhasil menginjakkan kakinya di benua Amerika, dan membuktikan bahwa bumi itu bulat.

Upaya para intelektual Muslim saat itu untuk memetakan bumi—beserta informasi mengenai keadaan alam, hasil bumi, dan barang tambangnya—telah dimulai     pada abad ke-9 M. Al-Muqaddasi (Abu ‘Abdillah) yang hidup pada tahun 985 M melakukan pengembaraan panjang mendatangi berbagai negeri hingga 20 tahun lamanya. Tujuannya adalah untuk menyusun ensiklopedia sederhana mengenai ilmu bumi. Ia memberikan banyak informasi yang amat teliti tentang tempat-tempat yang dikunjunginya.

Sejak saat itu, mulailah berkembang upaya-upaya spesifik yang akan melahirkan cabang ilmu historio topographical maupun demografi. Di antara buku-buku ilmu bumi yang banyak tersebar saat itu ada yang memfokuskan tentang sejumlah peraturan pos pada masa para khalifah dan peraturan mengenai kharaj di masing-masing wilayah; ada pula yang menggambarkan kondisi udara (tingkat hujan, kelembaban, intensitas sinar matahari dsb), pertambangan/logam; dan sejenisnya.

Pada pertengahan abad ke-10 M, Al-Astakhri menerbitkan karyanya tentang ilmu bumi negeri-negeri Islam yang disertai dengan peta berwarna yang membedakan data potensi masing-masing negeri. Pada akhir abad ke-11 M, Al-Biruni mengekspose bukunya tentang ilmu bumi Rusia dan Eropa Utara. Ia adalah Abu Raihan Biruni yang lahir di negara bagian Khurasan. Ia belajar ilmu pasti, astronomi, kedokteran, matematika, sejarah, serta ilmu tentang bangsa India dan Yunani. Ia sering melakukan korespondensi dengan Ibn Sina.

Pertengahan abad ke-12 M, Al-Idrisi, seorang ahli ilmu bumi dan pelukis peta, telah membuat peta langit dan bola bumi yang berbentuk bulat. Kedua karyanya itu dibuat dari perak dan dihadiahkan kepada Raja Roger II dari Sisilia. Namun demikian, hasil karya Al-Idrisi yang amat terkenal adalah peta sungai Nil. Peta tersebut menjelaskan asal sumbernya (hulu sungai) yang kemudian dijadikan acuan bagi pengelana Eropa dalam menemukan hulu sungai Nil pada abad ke-19 M.

Tahun 1290 M, Quthbuddin as-Syirazi, ahli ilmu bumi, berhasil membuat peta Laut Mediterania, yang kemudian dihadiahkannya kepada Gubernur Persia saat itu. Pada era yang sama, Yaqut ar-Rumi (1179-1229) menyusun ensiklopedia ilmu bumi tebal yang terdiri dari 6 jilid. Ensiklopedia ini dikemas dengan judul, Mu‘jam al-Buldân.

B. Ilmu Astronomi

Khalifah al-Manshur dari generasi ke-Khilafahan Abasiyah pernah memerintahkan untuk menerjemahkan buku tentang astronomi yang berasal dari India yang berjudul Sidhanta. Penerjemahnya adalah al-Farabi (meninggal antara 796-806 M). Ia kemudian terkenal sebagai astronom pertama di dalam sejarah Islam.

Sepeninggal al-Farabi, direktur yang membidangi ilmu astronomi adalah al-Khawarizmi. Ia berhasil merumuskan perjalanan matahari dan bumi serta menyusun jadwal terbitnya bintang-bintang tertentu. Pada masa pemerintahan al-Makmun, al-Khawarizmi berhasil menemukan kenyataan tentang miringnya zodiak (rasi/letak) bintang. Ia berhasil pula memecahkan perhitungan sulit yang disebut dengan persamaan pangkat tiga (a qubic equation), yang oleh Archimides pernah disinggung, tetapi tidak berhasil dipecahkan. Penemuannya yang paling masyhur dan tetap digunakan dalam berbagai cabang ilmu adalah ditemukan dan mulai digunakannya angka nol serta berhasil disusunnya perhitungan desimal. Perlu diketahui bahwa bangsa Romawi, Yunani, maupun berbagai peradaban sebelum Islam, penjumlahan maupun pengurangan, bahkan lambang angka/bilangan belum mengenal angka nol.

Pakar-pakar astronomi yang pernah hidup pada masa itu, antara lain, adalah Ahmad Nihawand; Habsi ibn Hasib (831 M); Yahya ibn Abi Manshur (hidup antara 870-970 M); an-Nayruzi (922 M), pengulas buku Euclides dan penulis beberapa buku tentang instrumen untuk mengukur jarak di udara dan laut; al-Majriti (1029-1087 M), yang dikenal lewat bukunya, Ta‘dîl al-Kawâkib; az-Zarqali (1029-1089 M), yang di Barat lebih dikenal sebagai Arzachel; Nashiruddin at-Tusi (wafat 1274) yang membangun observatorium di kota Maragha atas perintah Hulaghu.

Az-Zarqali berhasil membeberkan kepada dunia cara menentukan waktu dengan mengukur tinggi matahari. Ia adalah orang pertama yang membuktikan gerak apogee matahari dibandingkan dengan kedudukan bintang-bintang. Menurut perhitungannya, gerak itu besarnya 12,04 derajat. Bandingkan akurasinya dengan nilai sebenarnya yang diperoleh saat ini, yaitu 11,8 derajat.

Ibn Jaber al-Battani, yang dikenal orang Eropa sebagai Al-Batanius (858-929 M), berhasil mengembangkan beberapa penyelidikan yang pernah dilakukan oleh Ptolomeus. Ia memperbaiki perhitungan-perhitungan mengenai waktu dan jarak tempuh bulan maupun beberapa planet. Ia juga membuktikan kemungkinan terjadinya gerhana matahari setiap tahun. Perhitungannya yang teliti tentang besarnya kemiringan ekliptika, panjang tahun tropis, waktu dan jarak tempuh matahari diakui oleh pakar-pakar astronomi.

Pada masa Bani Fatimiyah berkuasa, pakar astronom Muslim ternama, Ali ibn Yunus (meninggal tahun 1009 M) mempersembahkan sebuah buku mengenai ilmu astronomi kepada negara berjudul Al-Zij al-Kâbir al-Hâkimî. Manfaat buku ini diakui oleh para pakar astronomi sehingga disalin ke bahasa Persia oleh ‘Umar Khayyam. Umar Khayyam sendiri berhasil menyusun sistem penanggalan yang lebih teliti dibandingkan dengan penanggalan Gregorian, karena penyimpangannya hanya satu hari dalam 5000 tahun, sedangkan penanggalan Gregorian penyimpangannya satu hari dalam 3300 tahun). Buku Ali ibn Yunus juga diterjemahkan ke dalam bahasa China oleh Co Cheon King (tahun 1280 M). Pada masa yang sama, al-Biruni (1048 M) memaparkan teorinya mengenai rotasi bumi, perhitungan serta penentuan bujur dan lintang bumi dengan akurasi yang amat teliti.

C. Ilmu Pasti/Matematika

Bangsa Barat mengenal angka-angka Arab, atau biasa disebut algoritma, dengan menisbatkannya kepada al-Khawarizmi, seorang pakar matematika dan aljabar. Kata algoritma, yang disingkat menjadi augrim, bersumber dari buku-buku al-Khawarizmi. Orang-orang Eropa saat itu amat terpengaruh oleh teori-teorinya yang brilian. Hal itu tampak dalam buku Karmen de Algorismo, karangan Alexander de Villa Die (tahun 1220 M), dan bukuAlgorismus Vulgaris, karangan John of Halifax (tahun 1250 M).

Buku al-Khawarizmi yang paling masyhur adalah Hisâb al-Jabr wa al-Muqâbalah. Gerald of Cremona menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Latin, yang edisi Inggrisnya berjudul The Mathematics of Integration and Equations. Buku ini menjadi referensi utama di berbagai perguruan tinggi Eropa hingga abad ke-16 M. Selain itu, al-Khawarizmi berhasil mengembangkan perhitungan Platolemy dalam perhitungan busur dan ilmu ukur sudut dengan mengetengahkan istilah sinus serta menyusun penyelesaian yang sistematis dalam persaman pangkat dua. Ibn Ibrahim al-Fazari mengembangkannya lebih lanjut hingga ke bentuk persamaan pangkat tiga. Hal sama sebenarnya juga dilakukan dalam persamaan pangkat tiga oleh Abu Ja’far al-Khazen (960 M). Hanya saja, ia lebih memfokuskan penggunaan aljabar dalam ilmu ukur, dan ia adalah peletak dasar bagi ilmu ukur analitis.

Keahlian dalam aljabar yang digunakan dalam ilmu ukur sudut didalami oleh Al-Battani (858-929 M). Dialah yang menguraikan persamaan sin Q/cos Q = k. Ia pun menjabarkan lebih lanjut formulasi cos a = cos b cos c + sin b sin c cos a pada sebuah segi tiga.

Abu al-Wafa (940-998 M) termasuk kelompok pertama pakar matematika yang mengungkapkan teori sinus dalam kaitannya dengan segi tiga bola. Ia orang pertama yang menggunakan istilah tangentcotangent,secant, dan cosecant dalam ilmu ukur sudut, yang sekaligus membuktikan adanya hubungan di antara keenam unsur itu.

Jabir ibn Aflah, yang dikenal oleh bangsa Eropa dengan sebutan Geber (wafat tahun 1150 M), telah menulis buku dalam ilmu astronomi sebanyak 9 jilid. Para pengkaji manuskrip kuno menganggap bahwa bukunya merupakan pengembangan labih lanjut dari buku Almagest-nya Platomeus. Jabir ibn Aflah adalah orang pertama yang menyusun formulasi cos B = cos b sin A, cos C = cos A cos B pada sebuah segi tiga, yang sudut C-nya siku-siku.

D. Ilmu Fisika

Pencapaian kaum Muslim dalam perkembangan ilmu fisika, sama pesatnya dengan perkembangan yang diperoleh dalam ilmu pasti maupun ilmu kimia. Salah seorang pakar ilmu fisika yang terkenal pada abad ke-9 M adalah al-Kindi. Ia menguraikan hasil eksperimennya tentang cahaya. Karyanya tentang fenomena optik diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, De Sspectibus, dan memberikan pengaruh besar dalam proses pendidikan Roger Bacon.

Di samping itu, ada pula Ibn Haytham, yang di Barat lebih dikenal sebagai Alhazen (965-1039 M). Ia bukan saja ahli dalam bidang ilmu pasti dan filsafat, tetapi juga amat mumpuni dalam bidang ilmu optik dan pencahayaan. Sebanyak 200 judul buku mengenai optik dan pencahayaan dinisbatkan kepada Ibn Haytham. Teorinya yang amat terkenal adalah tentang sumber cahaya yang menyebabkan benda dapat dilihat. Ditegaskan juga bahwa cahaya itu bukan berasal dari mata yang melihat melainkan dari benda tersebut. Teori ini jelas-jelas bertentangan dengan teori Euclides dan Platomeus yang mengatakan bahwa benda dapat dilihat karena mata yang bercahaya. Ibn Haytham juga menunjukkan tentang fenomena refleksi dan refraksi cahaya. Ia juga membuktikan adanya perbedaan berat jenis antara udara dengan benda-benda. Teorinya ini mendahului teori yang sama yang dikeluarkan atas nama Torricelli jauh lima abad sebelumnya. Ibn Haytham pula yang mulai melakukan eksperimen tentang gravitasi bumi jauh sebelum Newton merumuskan teorinya tentang gravitasi. Kepiawaian Ibn Haytham dalam ilmu optik membuatnya berhasil menemukan lensa pembesar pertama. Padahal, lensa sejenis baru dapat dibuat di Italia beberapa abad kemudian. Buku Ibn Haytham yang membahas tentang optik diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada tahun 1572 M. Bukunya amat mempengaruhi para sarjana Eropa di abad pertengahan seperti Keppler, Bacon, maupun Leonardo da Vinci.

Pembahasan tentang mekanika yang dituangkan dalam sebuah buku berjudul, Kitâb fî Ma‘rifah, karya al-Jazari (nama aslinya Badi’uz Zaman Ismail) muncul pada awal abad ke-13 M. Di dalamnya diuraikan berbagai fenomena mekanika sederhana yang menjadi dasar bagi para sarjana Eropa dalam menyusun ilmu mekanika moderen.

E. Ilmu Sejarah Alam

Tumbuhan maupun hewan tidak luput dari sasaran pengkajian ilmiah para intelektual Muslim. Perkebunan (botanical garden) yang sederhana dijadikan tempat untuk melakukan eksperimen. Hal itu dijumpai di kota-kota seperti Baghdad, Kairo, Cordova dan lain-lain. Melalui eksperimennya, para intelektual Muslim berhasil mengetahui perbedaan jenis tumbuh-tumbuhan, membagi tumbuhan berdasarkan tempat asalnya, mempelajari bermacam-macam perbanyakan tumbuhan, dan mulai menyusun klasifikasi tumbuhan secara sederhana.

Pada abad ke-11 M, pakar pertanian bernama Abu Zakaria Yahya menulis buku tentang pertanian berjudul Kitâb al-Falahah. Langkahnya kemudian diikuti oleh Abu Ja‘far al-Qurthubi (1165 M) yang menyusun buku yang berisi seluruh jenis tumbuhan yang dijumpai di daerah Andalusia dan Afrika Utara. Setiap jenis tumbuhan diberi nama Arab, Latin, dan Barbar. Periode ini diikuti oleh Ibn Baythar (1248 M), yang melakukan ekseperimen tentang rumput-rumputan dan berbagai jenis tumbuhan. Ia menyusun dua buah judul buku hasil penyelidikannya. Salah satunya memuat keterangan rinci lebih kurang 200 jenis tumbuhan. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada tahun 1759 M di Cremona.

Kaum Muslim turut memberikan andil bagi para pakar tumbuhan dan menyediakan informasi yang amat berguna mengenai sekitar 2000 jenis tumbuh-tumbuhan yang sebelumnya belum dikenal.

Pakar zologi yang terkenal antara lain adalah al-Jahir. Ia menulis buku berjudul Kitâb al-Hayawân. Di dalamnya dijelaskan anatomi sederhana, makanan, kebiasaan hidup, serta manfaat yang diperoleh dari berbagai jenis hewan. Di samping itu, terdapat pula ad-Damiri (1405 M), seorang pakar zologi yang berasal dari Mesir.

F. Ilmu Kedokteran

Perhatian kaum Muslim terhadap ilmu kedokteran sudah ada sejak peradaban Islam terbentuk di kota Madinah, ditambah lagi dengan kebutuhan yang dijumpai setiap kali kaum Muslim melakukan jihad fi sabilillah. Ilmu kedokteran termasuk cabang ilmu yang paling pesat perkembangannya di Dunia Islam saat itu, karena manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat luas. Wajar kalau Khalifah Harun ar-Rasyid (abad ke IX M) memberikan perhatian yang amat besar dengan membuka fakultas khusus tentang ilmu kedokteran di berbagai perguruan tinggi di kota Baghdad, lengkap dengan rumah sakitnya. Seiring dengan perkembangannya, berbagai buku tentang ilmu kedokteran pun mulai tersebar luas. Buku-buku tersebut di kemudian hari disalin ke dalam bahasa Latin.

Kemungkinan besar, buku kedokteran pertama yang disusun oleh pakar kedokteran Muslim adalah Firdaus al-Hikmah. Buku tersebut ditulis pada tahun 850 M oleh Ali at-Tabari. Pada saat yang sama, Ahmad ibn at-Tabari melakukan eksperimen pertama tentang penyakit kurap. Ia termasuk pakar kedokteran pertama yang berhasil menyingkap penyakit kulit tersebut.

Di kota Baghdad, muncul pula pakar kedokteran bernama Abubakar Muhammad ibn Zakaria. Ia dikenal dengan ar-Razi (864-932 M). karangan-karangannya tergolong sebagai encyclopedia karena tebal dan banyaknya. Untuk bidang kedokteran saja, ia menyusun sekitar 200 judul buku. Prestasinya yang hebat dipandang oleh sebagian orientalis melebihi prestasi Galinus, seorang filosof Yunani terkenal. Di antara bukunya yang terkenal adalah Al-Manshûri. Buku tersebut terdiri dari 10 jilid dan telah disalin ke dalam bahasa Latin (di kota Milano) pada akhir abad ke-15 M. Bukunya yang lain adalah Al-Judari wa al-Hasbah. Buku tersebut mengupas tentang penyakit cacar dan campak. Buku ini tergolong sebagai buku pertama yang membahas penyakit cacar dan campak serta penjelasan mengenai cara-cara pencegahan dan pengobatannya. Buku ini telah disalin ke dalam bahasa Latin tahun 1565 M. Buku lainnya adalah Al-Hawi yang terdiri dari 20 jilid. Buku ini memaparkan sejarah dan mengumpulkan berbagai penemuan di bidang kedokteran yang pernah dijumpai dalam peradaban Yunani, Persia, India, dan hasil analisis sang penyusunnya sendiri. Tahun 1279 M, buku ini disalin di Sisilia ke dalam bahasa Latin dan dicetak tahun 1486 M.

Ali ibn ‘Abbas (994 M) menyusun buku berjudul Kitâb al-Mâlik. Buku ini mengupas tentang masalah gizi dan pengobatan dengan menggunakan rempah-rempah. Ia juga menyusun buku lainnya yang memaparkan tentang sistem peredaran darah di dalam pembuluh, kehamilan dan persalinan, dan banyak lagi yang lain.

Dalam spesialisasi penyakit mata, terdapat nama-nama seperti al-Haysam (965 M), Ali al-Baghdadi, ‘Ammar al-Moseli (yang menulis buku Al-Muntakhah fî al-‘Ilâj al-‘Ayn). Buku-buku mereka mereka telah disalin ke dalam bahasa Latin dan dicetak berulang-ulang bagi mahasiswa kedokteran Eropa pada abad pertengahan.

Pakar farmasi (obat-obatan) yang terkenal di Dunia Islam adalah Ibn Bayhthar ad-Dimasyqi (1197-1248 M) yang menyusun buku Al-Adwiyah al-Mufradah. Buku tersebut berisi kumpulan berbagai resep obatan-obatan. Penulisnya menjadi peletak dasar ilmu farmasi. Sedemikian besar manfaatnya di Eropa, buku ini sempat dicetak ulang sebanyak 23 kali pada abad ke-15 M dan diberi judul Simplicibus.

Spesialis bedah yang terkenal adalah Ibn Qasim az-Zahrawi al-Qurthubi (lahir 1009 M). Ia menyusun buku berjudul At-Tashrîh. Beberapa bagian buku ini disalin oleh Gerald of Cremona pada abad ke-16 M ke dalam bahasa latin. Hingga abad ke-18 M, buku ini dijadikan referensi di berbagai perguruan tinggi kedokteran Eropa, terutama ilmu bedah. Di dalam buku itu juga dijelaskan jenis-jenis dan penggunaan alat bedah, perlakuan pasca bedah yang mencakup sterilisasi luka, dan sejenisnya.

Menyinggung perkembangan ilmu kedokteran Islam, tidak lengkap tanpa menyebut Ibn Sina (1037 M). Bukunya yang terkenal adalah Al-Qânûn fî ath-Thibb yang dianggap sebagai ensiklopedia ilmu kedokteran dan ilmu bedah terlengkap pada zamannya. Selama kurun waktu abad ke-12 sampai abad ke-14 M, buku ini dijadikan referensi utama pada fakultas kedokteran di berbagai perguruan tinggi Eropa. Sejak abad ke-15 M, buku ini telah dicetak ulang sebanyak 15 kali, bahkan beberapa bagian buku tersebut masih dicetak tahun 1930 di kota London. Sedemikian terkesannya orang-orang Eropa terhadap buku-buku dan prestasi Ibn Sina hingga Encyclopedia Britannica mengutip ucapan salah seorang orientalis Sir Thomas Clifford yang berkata, “Orang-orang Eropa berpendapat bahwa karya-karya Ibn Sina dalam ilmu kedokteran telah menenggelamkan karya-karya lain seperti karya Hypocrates, bahkan karya Galinus sekali pun.”

Selain itu terdapat juga spesialis ilmu tulang dan mikrobiologi, seperti Ibn Zuhr (1162 M), yang di Barat lebih dikenal sebagai Avenzoar. Bukunya yang terkenal adalah At-Taysîr fî Mudâwah wa at-Tadbîr. Ibn Rusyd—seorang dokter, penulis buku Al-Kulliyât fî ath-Thibb, sekaligus seorang faqih penulis buku Bidâyah al-Mujtahid—berkomentar bahwa Ibn Zuhr adalah seorang pakar kedokteran Islam yang paling besar.

Sejarah Islam juga dipenuhi degan pakar kedokteran lain yang memiliki spesialisasi di bidang epidemi dan kesehatan lingkungan, seperti Lisanuddin ibn al-Khatib (1313-1374 M) yang menyusun kitab tentang penularan penyakit. Ia mengikuti jejak dari Ibn Jazlah (110 M), yang di Eropa lebih dikenal dengan sebutan Ben Gesla. Ia menyingkap tentang periodisasi dan jadwal berbagai penyakit dengan memperhitungkan cuaca. Ia juga menentukan obat-obatan bagi masing-masing penyakit yang dianalisisnya. Bukunya telah disalin dan dicetak di Tassburg tahun 1532 M.

Perhatian para khalifah dan kaum Muslim terhadap kesehatan dan ilmu kedokteran direalisasikan dengan dibukanya poliklinik harian dan poliklinik keliling. Para dokter yang bertugas di situ bertugas bukan saja membuka pelayanan umum bagi masyarakat, tetapi juga bagi orang-orang sakit yang ada di lembaga pemasyarakatan. Sistem pemeriksaan secara periodik bagi para pegawai yang memperoleh beban tugas tertentu dan membutuhkan kriteria kesehatan yang amat ketat merupakan prosedur rutin yang sudah dilakukan oleh kaum Muslim. Pada saat yang sama, di Eropa terdapat kepercayaan bahwa mandi itu dapat mengakibatkan penyakit tertentu, dan penggunan sabun sebagai alat pembersih sangat berbahaya bagi mereka.

Tidak pelak lagi, pencapaian sains dan teknologi yang amat tinggi, yang tidak pernah dicapai oleh umat manusia pada masa sebelumnya, adalah berkat diterapkannya Islam sebagai sebuah sistem hidup dan ideology. Benar kiranya pernyatan salah seorang intelektual Muslim dari Mesir, Syekh Syaqib Arselan, yang mengatakan bahwa orang-orang Barat maju karena meninggalkan agamanya, dan kaum Muslim mundur karena meninggalkan agamanya.

http://mtaufiknt.wordpress.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 15, 2011 in Uncategorized

 

Sains dan Islam

Oleh: Mujtahid *
KEMAJUAN sains modern telah mengilhami dua kontribusi paradoks bagi Islam. Pertama, pencerahan sains telah menyumbangkan ‘kebenaran’ terhadap ayat-ayat kauniyah hasil ciptaan Tuhan yang selama ini belum terungkap. Hasil temuan-temuan mutakhir para ilmuan semakin jelas mengukuhkan bahwa Islam sesungguhnya compatible dengan kemajuan sains dan teknologi.
Kedua, sains dan teknologi modern cenderung mereduksi nilai-nilai kebenaran ilahi yang bersifat mutlak dan menggantikannya dengan nilai-nilai relativitas yang merupakan kelanjutan dari paham positivisme. Akibatnya, hubungan sains dan agama mudah renggang dan menjadi kurang harmonis.
Bentuk kontribusi yang kedua dipandang oleh sebagian pemikir muslim telah menyimpang dari keteraturan alam (sunnatullah) sebagaimana mestinya. Terlebih, ketika sains menampakkan dirinya sebagai otoritas mutlak yang cenderung melawan atau berseberangan dengan otoritas Tuhan. Dengan dalih pembenaran demi kepentingan manusia, sains seringkali dijadikan sarana penghancuran.
Sejak 1970-an hingga belakangan ini, di kalangan sarjana dan ilmuan Muslim, masih terjadi sengketa pandangan mengenai sains islami (islamisasi ilmu). Munculnya islamisasi sains paling tidak dilatarbelakangi dua hal. Pertama, dunia Islam tidak mempunyai tradisi ilmu sosial yang berkembang se zaman dengan ilmu-ilmu keagamaan. Kedua, ilmu-ilmu sosial yang berkembang di kalangan masyarakat Islam belum mampu menunjukkan kemampuannya mengatasi masalah sosial, politik, dan ekonomi yang dihadapi sebagain besar dunia Islam sendiri.
Sebagai respon terhadap situasi tersebut, tampil pemikir-pemikir Muslim kaliber dunia seperti Seyyed Hossen Nasr, Ismail Raji al-Faruqi, Syed Muhammad Naquib al-Attas dan lain-lain. Dalam pandangan mereka, perkembangan sains telah menyimpang dari hakikatnya. Sains berubah menjadi sebuah ancaman bagi manusia karena cenderung berwatak reduksionis dan bebas nilai. Sains yang dibangun dengan paradigma positivisme modern di Barat, kini justru menjauhkan diri dari nilai-nilai keadaban manusia itu sendiri.
Menurut Armehedi Mahzar, (penulis buku Revolusi integralisme Islam), perlu upya pembongkaran dan kritik tajam terhadap sains dan teknologi modern yang bebas nilai tersebut. Ia merumuskan paradigma baru antara sains dan Islam secara integral. Karena secara sintesis, keduanya harus bersatu padu, saling memberi dan menerima koreksi.
Penulis juga berkeyakinan bahwa hubungan sains dan agama (Islam) bukanlah suatu masalah besar, sebagaimana yang diyakini banyak orang. Sebab, secara intrinsik keduanya tidak ada pertentangan yang perlu dibesar-besarkan lagi. Berdasarkan perspektif wahyu maupun sunnah tidak terdapat satu pun dasar yang menyebutkan kontradiktif.
Pendeknya, tidak ada pertentangan yang akut antara sains dan Islam. Sains dalam pengertiannya yang modern adalah pengembangan filsafat alam yang merupakan bagian dari filsafat yang menyeluruh dalam khazanah keilmuan Yunani. Tetapi, filsafat Yunani terlalu deduktif, yang lebih berdasarkan pemikiran spekulatif. Sehingga perlu dilengkapi dengan pengamatan empiris yang diperintahkan dalam kitab suci Islam.
Di kalangan gerakan Islam modern, sains dan Islam tak ada masalah. Mereka meyakini bahwa Islam sebagai agama universal merupakan penyempurna bagi sains modern Barat yang dianggapnya universal. Tetapi, di Barat sendiri konsep universalisme sains menjadi satu persoalan. Itulah mengapa integralisme menjadi harapan yang perlu dikembangkan bagi manusia.
Pemikir-pemikir Muslim di atas, beralasan bahwa sains modern yang tak islami itu adalah merujuk pada krisis peradaban kontemporer. Suatu peradaban yang meruntuhkan sendi moral manusia, mengisolasi sisi sakralitas dan profanitas, serta tidak ada batas antara yang immanen dan permanen. Semuanya serba menjadi relatif dan diserahkan sepenuhnya kepada pelakunya.
Padahal, sains bukanlah produk yang statis yang bisa diwarnai begitu saja oleh pemakainya. Sains Barat modern terus berkembang dan mengalami transformasi sesuai dengan adaptasi sosio-kultural terhadap teknologi sebagai aplikasi sains, serta implikasi filosofis penemuan-penemuan teoretik di dalam sains itu sendiri.
Karena itu, sudah seharusnya ada sebuah alternatif baru untuk membuka jalan agar terjadi integralisme universal. Neoperenialisme menyuguhkan suatu pandangan menyeluruh yang mengintegrasikan paradigma materialisme ilmiah secara dua tahap menjadi integralisme universal. Dengan paradigma ini, sains dan teknologi yang hendak dibangun akan berkesesuaian dengan nilai-nilai ketuhanan dan kodrat manusia.
Dari proses rumusan paradigma tersebut, penerapan sains menjadi lebih berempati pada nilai keadaban manusia. Sains dan teknologi akan mengangkat derajat manusia yang lebih terhormat. Sehingga dampak sains dan teknologi yang cenderung menakutkan, berubah menjadi harapan dan cita-cita kehidupan manusia secara umum. Dari sinilah rasa ketakutan selama ini yang berupa militeristik (bom atom, senjata pemusna massal), kerusakan ekologis, sekat sosiologis, serta psikologis menjadi lebih menjamin ketenanga dan harmoni bagi hidup manusia.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 15, 2011 in Uncategorized

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2011 in Uncategorized